Pendakian Sumbing 6 – 10 Desember 2002

Pendakian Sumbing 6 – 10 Desember 2002
Dituliskan Oleh : YanWeKa (Anggota Gappala14 Jakarta)

Gunung sumbing bagi sebagian orang mungkin bukan suatu medan pendakian yang menarik – bukan merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah apalagi di Pulau Jawa, dan juga bukan gunung api yang sering mengeluarkan wedus Gembel seperti layaknya Gunung Merapi di di Jogjakarta. Namun tantangan Sumbing dengan udara dan angin yang bertiup kencang membuat kami merasa tertantang dengan kondisi alam tsb.


PERJALANAN

Perjalanan kami awali dari posko Garung (KM Pertama) dengan berjalan kaki sekitar satu jam melawati perkampungan penduduk, saat itu bertepatan dengan lebaran Idul Fitri tahun 2002. sehingga suasana kampong agak sedikit semarak dengan penduduk yang  cukup ramah.

1 jam perjalanan sudah kami lewati, kami pun memasuki kawasan Perkebunan berupa lahan pertanian, dari kebun ini aneka hasil perkebunan berupa  Kol, Wortel, Ubi, Mentimun, Jagung, selada, kangkung, talas, dll  bisa kita lihat sepanjang perjalanan dengan catatan perjalanan hari siang hari.

Perjalanan sengaja kami lakukan pada malam hari agar bisa menghemat Air yang dibawa dari posko. Jalan aspal yang kita lewati semenjak di desa garung berubah menjadi jalan berbatu, membuat perjalan kami dalam mengikuti rute ini cukup lancar, tidak terasa berat dan tidak takut salah jalan.

2 Jam perjalanan akhirnya batu – batu kerikil mulai menghilang digantikan jalan tanah yang kondisinya juga termasuk rapih dan tidak becek.  Pada ketinggian sekitar 1600 Mdpl atau pada KM II mulai terlihat cahaya lampu dibawah sana, dimana kota Wonosobo terlihat sangat jelas, begitupula dengan kota Temanggung juga terlihat  dengan warna yang Indah.

Sudah 3 jam berjalan menelusuri tanah liat yang bercampur akar pohon disana sini dan posisi kami saat ini berada tidak jauh dari sungai yang membelah jalan setapak kami, Kawasan ini dikenal sebagai kawasan BOSWISEN atau perbatasan antara Ladang Petani dengan Hutan Pinus pada KM III. Jalur di kawasan ini tanah berpasir, tapi cukup enak dilalui dan  senangnya lagi jalur belum menanjak tinggi J

Kami beristirahat untuk cuci muka dan minum air hangat yang dibawa dari desa garung sebagai hadiah dari ibu-ibu diposko yang memberikan teh dengan aroma yang cukup khas, Teh celup Khas Sumbing, kami sebut begitu, rasanya pahit-pahit enak gitu dech.

Perjalanan selanjutnya adalah mencari Pos Gatakan pada ketinggian 2240 mdpl, katanya sih terdapat mata air yang dapat digunakan untuk mengisi persedian air minum, apalagi di atas sana sudah tidak ada mata air, sehingga persedian air bersih harus dipersiapkan mulai dari pos gatakan ini.

Pos Gatakan atau di KM III tepat pada ketinggain 2240 dpl, dimana pada area ini terdapat tempat berkemah dan mencari Persediaan air. Waktu yag kami tempuh hampir 2 jam dari pos Boswisen. Kondisi alam cukup dingin dimana sudah jarang pohon tinggi yang ada hanya semak semak yang kering akibat terbakar.

Sebagian anggota mencari air dilembah2 di sekitar Pos Gatakan, dan lokasi Mata air ternyata berupa sungai kecil disebuah lembah dipunggungan Gunung Sumbing yang bersumber dari daerah Kawah Watu Kotak, dimana awal dari mata air tersebut. Akan tetapi lokasi yang mudah mendapatkan air ya…di pos Gatakan ini.

Dan kami pun akhirnya memutuskan untuk bermalam diposko ini karena kondisi sebagian anggota termasuk saya sudah cukup lelah setelah 6 jam berjalan ditambah sejak dari Jakarta belum sempat beristirahat.

MUSIBAH HAMPIR TERJADI…..

Bermalam di Pos Gatakan tak akan pernah kami lupa dimana hamper terjadi Kecelakaan berupa meleduknya Kompor Gas Hicook yang menyambar Tenda Wanita yang sedang terlelap tidur, Alhamdulilah Puji Syukur Kepada Allah SWT, Musibah kebakaran tenda tidak melukai kawan2, hanya saja pakaian menjadi Hangus terbakar dan herannya lagi tenda yang sempat berkobar-kobar ternyata tidak terbakar sedikitpun, Subhannaullah. Dan ini menjadi pelajaran dimana rasa lelah membuat teman-teman mulai berkurang kewaspadaannya sehingga sangat tepat bila kami putuskan untuk bermalam disini.

Pagi hari pukul 5.30 suasana begitu sunyi dengan kabut tebal, samara-samar puncak Sindoro terlihat tepat di depan mata, seolah olah bagai lukisan raksasa tepat di depan mata kami.

Sarapan Mie rasa aneh ….., mengisi perut yang keroncongan sejak malam tadi. Tak lupa masak air sepuas – puasnya mumpung mata airnya dekat disini. Esktra Jos, Susu dan minuman energi kami siapkan untuk persiapan mengapai Puncak Sumbing.

Tepat pukul 9 pagi setelah sarapan dan minum kami pun tidak lupa mempersiapkan persiadiaan air masing2 orang membawa 2 liter air dan beberapa air cadangan termasuk cadangan air untuk Turun yang kami siapkan di lokasi tertentu.

Bismillah, bisik kami dalam hati, untuk memulai pendakian mencapai Puncak yang kelihatannya masih jauh. :(

Perjalanan kami tidak semudah yang kami bayangkan karena dengan banyaknya rombongan perjalanan semakin lambat, apalagi tanjakan mulai menghiasi suasana perjalanan kami, malah tidak ada bonusnya sedikitpun. Huuh

Pos IV atau Pos Krendengan kami capai dengan waktu hamper 3 jam itupun sudah cukup bagus buat kami, perjalanan semakin terseok – seok dimana tanjakan – tanjakan semakin tinggi dengan kemiringingan yang sangat tajam di tambah jalur yang sangat sulit di lewati. (Hihihi jadi cerita serem nich)

5 jam sudah kami berjalan dengan kondisi fisik makin lemah ( waduh kok bisa lemah he he), akhirnya kami pun sampai di Pos Pestan atau KM V pada ketinggian 2437 Dpl. Di Pestan ini Jalur Lama dan Jalur Baru menjadi satu. Lokasi ini angin dan Kabut bagaikan teman selama perjalanan. Oleh sebab itu kita dilarang untuk berkemah disini karena sering terjadi badai antara Pos Pestan Hingga Pasar Watu. (katanya looh)

Kami berkumpul di sini sambil menunggu teman2 yang masih tertinggal dibawah sana, tidak lupa makanan kecil dan sedikit senda Gurai mewarnai istirahat kami di pestan ini, kami juga mengamati bahwa, G. Sumbing nampak gersang bahkan nampak Gundul yang ada hanya semak-semak yang gosong terbakar. Di Pestan ini pula kita bisa melihat jalur menuju Pos Pasir watu, jalan setapak mengikuti punggungan bukit dan jangan heran bila kita bisa meliahat Tanjakan-tanjakan yang lebih seru lagi….( He he he capek dech.)

S’telah berjuang dari tanjakan yang parah tadi kita sampai di pos Pasir Watu, di tempuh dengan waktu 2 Jam saja….. he he he he ngebut

Di pasir Watu kita bisa lihat batu besar berserakan dengan pemandangan sebuah Puncak palsu menjulang tinggi , dan kita pun harus berputar ke kiri untuk menuju pos Watu Kotak pada ketinggian 2763 dpl.

BONUS

Nah kalo tadi kita bicara tanjakan maka di Pasir Watu Kita di kasih sedikit Bonus malah ada turunan segala, untuk berputar menuju Watu Kotak. Selama perjalanan menuju watu kotak kita bisa menikmati pemandangan yang luar bisaa indahnya di mana kita bisa memandang luas ke berbagai arah, menariknya ada goa alam, tapi saya lupa nama Goanya, bila ada badai goa tsb bisa digunakan untuk berlindung, dan menurut petugas posko, di sini sering terjadi kecelakaan karena angin kencang dan ada pula pendaki yang jatuh ke dalam jurang yang dalam karena ceroboh. Maklumlah kabutnya tebel banget bro!

Pos Watu Kotak seperti namanya berdiri sebah batu besar bentuknya kotak, di sini angin cukup kencang dan bau belerang samara-samar terasa dihidung kami, dan ternyata saya cari tahu berasal dari sebuha kawah tepat di bawah watu kotak ini, di bawah jurang yang dalam mengepul asap belerang.

Di Watu Kotak ada beberapa anggota yang sakit karena lelah, team logistic dengan sigap membuat makanan hangat berupa mie instant dan minuman hangat laainnya. Cuaca di siang menjelang sore ini sudah  berkabut tebal, tapi terkadang terang dan kabut kembali lagi, sehingga cuaca sulit sekali di terka, saya hanya dapat menilai dari angin yang berhembus membawa kabut yang nampak jelas terlihat, bila kabut berwarna putih maka udara akan sangat dingin, dan bila kabut agak tebal dan hitam pasti hujan menguyur kami, walaupun hanya sebentar.

Angin di Sumbing memang cukup di kenal oleh para pendaki yang pernah berkunjung ke sumbung eh sumbing ini. Jadi jangan heran sambutan angin adalah khas dari gunung ini.

Setelah 15 menit menikmati hidangan serba instan rombongan kami meneruskan perjalanan dan kali ini rute yang kami lewati benar benar menanjak tak henti hentinya. Perjalanan rombongan ini pun agak tersendat-sendat tapi kami masih bisa saling komunikasi walaupun jarak agak jauh.

2 jam kami memasuki Tanah Putih atau KM VI, di sini memang tanahnya agak putih seperti tanah belerang berkapur, ini adalah pos terakhir mencapai puncak Sumbing, dan dari sini pun kami bisa melihat puncak Buntu menjulang tinggi pada ketinggian lebih dari 3000 dpl. Di lokasi ini kita bisa juga ngechamp tapi tanggung 2 jam lagi sampai puncak kok. Jadi kita lanjutin lagi perjalanan yang tidak habis-habisnya menanjak terus dan kali ini tanjakannnya makin gila, nyaris kami merayap seperti cicak he he he he, akan tetapi semangat kembali berkobar manakala puncak buntu sudah nampak di depan mata.

Setelah melewati Puncak buntu kita lanjutakn perjalanan kearah kanan menuju puncak Kawah, kalau dipuncak buntu kita tidak bisa bermalam ataupun mendirikan tenda maka kita harus menuju puncak kawah yang jaraknya sekita 1 KM dengan jalan yang sudah tak menanjak.

Puncak Kawah

Syukur alhamdulilah Rombongan kami tepat azan Magrib sampai di POS terakhir yaitu Puncak Kawah. Nah !!!!, kami pun sempat binggung untuk mendirikan tenda di puncak sebab arealnya sangat minim sekali. Paling-paling hanya 2 tenda saja. Dan kalo mau agak luas kita mesti turun kearah kawah dimana arealnya cukup lebar hingga mungkin bisa manampung ratusan pendaki, tapi kalo di Puncak Pass ini, yaa harus pinter – pinter bikin tenda, agar tidak terbawa angin yang cukup keras ditambah udara  dingin menyengat kulit kami.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun untuk melihat matahari terbit, tapi sayang kabut menutupi keindahan alam, karena cuaca memang kurang bagus dan kurang cerah, hingga jam 7 pagi kami hanya termenung tepat di atas batu pada ketinggian lebih dari 3370 dpl. Dengan rasa Syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas kesempatan menikmati keindahan alam yang tiada tara dan belum tentu semua orang di Muka Bumi ini bisa marasakan seperti apa yang kami rasakan disini. Subhannawlah,

Kembali Turun

Jam 10 Siang kami segera bergegas Turun Udara Dingin sangat terasa di tambah dengan panas matahari yang diam-diam menghanguskan kulit kami. 13 Jam kami menempuh Puncak, sedangkan turun kita hanya butuh 5 jam saja. Asik …J

Tepat Jam 3 Sore kami sampai di Desa Garung yang damai dan lapor sama petugas di sana dan nggak lupa sebagian kawan-kawan kami tinggal di base Champ Garung Karena sakit dan alhamdulilah teman2 sudah kembali Pulih.

Selamat Tinggal Desa Garung dan G. Sumbing kami mencarter Mobil Truk menuju Jogjakarta, dimana merupakan pos Terakhir kami menuju Jakarta. Sedangkan saya dan beberapa rekan malam ini juga harus lembali ke Jakarta. ( ditulis pada Tanggal 25 Des 2002)

One thought on “Pendakian Sumbing 6 – 10 Desember 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s