Pendakian Milis #pendaki ke Merapi 25-26 Dsember 2004

Pendakian ini adalah pendakian yang dimotori oleh rekan-rekan milis pendaki Indonesia, diikuti oleh 24 peserta dari 4 kota, antara lain Jakarta, Yogja, surabaya dan solo. Dari Jakarta di bagi 2 kloter perjalanan antara lain “kloter Senen” yaitu Bang Nanda, Nhanha, Ryan(M_zikir), Rina, Dini dan Dody. “Kloter Jatinegara” terdiri atas Arinowo, mhama, Barak, Semi, Setia, Ipul, Gethuk, Baba, dan Yanweka. Kloter hanya sebutan kami, untuk menyebut groups yang bergabung di dalam team merapi saat itu.

Meeting point yang telah ditentukan adalah Stasiun Tugu Jogjakarta. Tepat pukul 9 pagi kami berkumpul disana, ditambah seorang kawan dari milis Jejak Petualang yaitu Yusup Irfan yang turut bergabung dengan kami sekaligus menjadi guet kami selama perjalanan.

Setalah sarapan pagi lesehan di sebuah warung, kami langsung menlanjutkan perjalanan menuju kota selo, tidak kurang 2.5 jam sampai di kota yang sejuk ini dengan mobil carteran, dan hujan pun menyapa kami dengan lembut.

Di basecamp ini kloter dari solo dan surabaya belum terlihat, menurut kabar sms mereka masih dalam perjalan menuju selo. Kloter solo ini terdiri atas beberapa rekan Palimka dan satu dari surabaya yaitu kiskie.

Terdengar kabar via sms bahwa team yogja yaitu kabul dan badug yang mendaki melalui jalur bebeng sudah mendekati pos 4.

Bila kita simak sedikit tentang gunung merapi ini maka Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.

Bilamana gunung ini menunjukan kedahsyatan erupsinya, masyarakat Yogyakarta dapat menyaksikan gumpalan asapnya yang berwarna putih kelabu atau kehitaman-hitaman mengepul keatas yang dari kejauhan nampak seperti timbunan bulu domba. Akan tetapi bilaman gunung itu dalam keadaan “tenang”, pesonanya demikian memukau, sehingga merangsang para remajayang ingin berpetualang mendaki gunung dan para pecinta olahraga mendaki gunung untuk menaklukan puncaknya.

Mendaki Gunung Merapi merupakan object wisata petualangan yang sangat menantang bagi para petualang yang ingin merasakan keindahannya. Untuk berpetualang disana anda dapat melalui beberapa jalur pendakian dari tingkat kesulitan yang tinggi hingga melalui jalur yang mudah, jalur pendakian tersebut antara lain melalui jalur pendakian bebeng (sebelah selatan) dan melalui Selo (sebelah utara).

Bagi yang kurang berminat melakukan pendakian sampai ke puncak masih dapat memuaskan hasrat hatinya untuk mengagumi kedahsyatan yang indah dari gunung Merapi ini, dari daerah Bebeng yang terletak lebih kurang 2 kilometer disebelah tenggara daerah Kaliurang, atau bisa juga melihat dari daerah Turi, lebih kurang 5 km disebelah barat daerah Kaliurang, jika ingin menyaksikan puncak Merapi dari kejauhan secara jelas, dapat digunakan teropong pengamat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di Plawangan.

Untuk mendaki gunung ini kita dapat melalui jalur pendakian yang paling mudah yaitu melalui jalur pendakian selo. Selo adalah sebuah kota kecil yang masuk ke dalam kabupaten boyolali. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat baik dari arah magelang maupun dari kota boyolali. Kota ini memikili kekhasan tersendiri karena udaranya yang sejuk dan dari sini kita dapat melihat dua buah gunung yang mengapit kota ini yaitu gunung merbabu dan gunung merapi.

kedua gunung tersebut dapat kita daki melalui kota ini dengan catatan untuk mendaki gunung merbabu lebih sulit dari selo karena jaurnya yang terjal, dan berbeda sekali dengan gunung merapi yang dapat kita tempuh hanya memakan waktu 5-6 jam menuju puncak.
Sebelum mendaki alangkah baiknya anda melaporkan rencanan perjalanan anda ke basecamp pendakian yang letaknya tepat di pinggir jalan.

Selain itu di basecamp ini anda dapat menyiapkan segala perlengkapan yangakan dibawa, bila butuh pemandu anda juga dapat menemui banyak sekali pemanda yang siap mengantarkan anda.

3 jam perjalanan kita akan merasakan hutan yang sudah mulai gundul di kawasan ini, dengan jalan tanah bercampur akar-akar pohon, namum keindahan sekelilingnya sudah bisa kita nikmati yaitu sajian kota boyolali dan kota magelang dari kejauhan. setalah itu kita tidak akan menemui pohon yang tinggi dan angin mulai berhembus kencang, anda dapat melihat pemandangan yang sangat menakjupkan yaitu berupa hamparan batu hingga mencapai puncak garuda.

Hambaran batu dikenal dengan pasar bubrah atau pasarnya lelembut, untuk mencapai puncak kita dapat menempuh kurang lebih 1 jam melewati batu sediment bekas letusan gunung tersebut. Puncak Gunung merapi pada ketinggian 2914 Mdpl dengan pesona kawah yang masih aktif dan disana pula anda dapat melihat dan naik ke atas puncak garuda, tanah tertinggi di yogjakarta.

Ngecamp di Watu Gajah
4 Jam perjalanan dari basecamp sampailah kami di watu gajah, di sini kami mendirikan tenda dengan terpaan angin yang cukup kencang. Dipilihnya watu gajah karena kondisi cuaca yang kurang mendukung untuk melanjutkan perjalan ke pasar bubrah, apalagi team solo dan surabaya masih jauh dibawah sana.

Tepat pukul 10 malam team solo dan surabaya sampai di camp, dan meraka langsung mendirikan tenda dan langsung bobo.

Pagi Muncak
Setalah berfoto-foto ria dan sarapan pagi, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak, seluruh team kecuali bang ryan saja yang tetap tinggal di tenda untuk menyediakan makan siang.

Sejak di pasar bubrah saya dan barak melihat jalur yang lumayan terjal
maka itulah saya sengaja informasikan ke kawan barak untuk mengawasi rekan-rekan khususnya cewek, terutama kiskie, dini, dan setia (nhanha juga dech).

Bertemu dengan kabul cs
Sebuah tenda biru tidak jauh dari puncak disanalah team yogja mas kabul dan badung ngecamp tadi malam, Sedangkan posisi saya nggak jauh – jauh dari bang nanda, hanya saja sewaktu ketemu dengan mas kabul …, posisi saya sudah ada di atas sayap kiri…., dan saya sempet jabat tangan dengan kalian…., dan aku
langsung ngeloyor krn melihat setia ….semakin ke kanan …(salah jalur) dan barak teriak-teriak “kiri-kiri”

diPuncak
1 Jam berjalan santai sampailah di puncak garuda dengan asap belerang yang mengepul dari sela-sela batu membuat sesak nafas, namun tak menghalangi kami untuk berfoto-foto. Dan tentunya yang utama adalah mengucapkan rasa syukur krn masih bisa diberikan kenikmatan menikmati puncak garuda Gunung Merapi.

Selepas berfoto-foto di puncak saya, barak dan ipul sengaja menjadi juru
kunci alias paling buncit…krn jempol kaki kanan terasa nyeri akibat
keseleo…, di temani barak dan ipul kita sempet mandi uap SPA dari uap
yang keluar dari sela-sela batu dikawasan puncak merapi ini.

Sampai di basecamp tenda barulah saya bisa berbincang-bincang dengan mas
kabul dan mas badun9, sambil mendengarkan cerita kalian yang agak
menyeramkan itu…, waktu jualah yang tidak menyempatkan kita untuk
ngobrol-ngobrol lebih lama…, krn kitapun harus mengejar kereta api
sore ini juga…, krn sebagian teman2 harus bekerja pagi harinya.

Terima kasih atas cerita pengalaman kalian, walaupun pertemuan kita
hanya sesaat semoga tali persahabatan ini semakin erat…, dan mohon
maaf bila kami memiliki ke alfaan yang kurang berkenan sewaktu disana.

Terima kasih atas persabatan dan perjalanan yang indah ini. (yanwk/gappala14/milispendaki).

Dan bagaimana kabul dan badung melewati jalur bebeng yang agak terjal dibawah ini kabul akan menceritakan untuk anda.

From: keranda mayat baloengnom16@yahoo.com
Yogyakarta akhir akhir ini sepanjang hari hujan, deras. Jalanan sekitarku kerap
digenangi air setinggi lutut yang sering buat motor mogok. Siang yang mendung
itu, usai hujan dibawah guyuran gerimis kami mencari 4 dirigen 2,5 liter. Saat
ditanyakan oleh ibu penjual dirigen, kami bilang, “Mau buat perjalanan bu, ke
Merapi”.

Lantas ibu itu bilang, Merapi lagi status siaga dik, liat aja di koran
Merapi kemarin, waktu kita cari, ternyata korannya gak ada. Aku tertegun, kaget,
dan bertanya tanya, kalaupun iya, kami harus membatalkan perjalanan. Melihat
kondisi sekarang ini, puncak yang sering diguyur hujan akan meningkatkan
aktifitas kawah yang semakin mengepulkan asap pekat dan tebal.

Ibu itu bercerita panjang lebar, tentang Merapi, tentang mistis Jogja, tentang
aktifitas gaib yang sedang “marah”, kata ibu, “Saat ini alam lagi panas dik,
alam yang nggak keliatan dan yang keliatan, tapi kebanyakan orang nggak
percaya”, cuaca lagi nggak ramah, dan gaib lagi marah karena tempat tempat
mereka diganggu, liat sendirikan, acara acara di TV yang banyak menampilkan
pencarian penampakan, dsb, dsb.” “Adik dari mana? Semarang bu, klo Smg atau dari
Jogja insyaAllah dilindungi,” he he.

Aku bilang, sudah pernah ketemu mbah
Marijan kok bu, juru kunci Merapi, ntar kita juga ijin dulu kesana. Ibu itu
terus bercerita, sementara kita sudah ingin pulang ke kos :( , akhirnya kami
minta restu dan doa dari ibu ibu yang berumur sekitar 60-an, di doakan euy,
lumayan dapat petuah bijak.

Seharian itu hujan, belanja logistik, terus packing buat perjalanan besok, saat
cari logistik, aku lihat di koran KR, status Merapi aktif normal, angin di
sekitaran puncak tenang, bertiup dari selatan ke barat daya. Cukup aman, kurasa.

Hari Jumat, kliwon, kita sampai di desa Kinahreja, ntah, hari hari mendekati
perjalanan kami selalu bertemu dengan orang tua, dan kebanyakan dari mereka
memberi senyum yang sangat ramah, membuat perjalanan yang menegangkan ini terasa
jelas kutatap, meski cuaca sebenarnya disinipun tak pernah lepas dari hari
gelap, mendung, dan hujan,

ketemu mbah Marijan, mbah sempat khawatir juga, tapi
dengan gaya bicaranya yang khas, tenang dan menyejukkan, senyum lagi, “Adik
sudah pernah kesini? mbah percaya aja sama kalian, asal.. “, sebelum selesai
bicaranya aku ngomong sama mbah, ntar kalo cuacanya nggak memungkinkan kami
nggak meneruskan kok mbah, paling nggak itu bisa membuat beliau tenang.

Lepas dari jam satu siang, setelah hujan deras, sisa sisa gerimis, kami mulai
perjalanan menuju campIV, camp tertinggi di lereng selatan. 1 jam pertama menuju
CampI sempat sinar matahari muncul, menuju campII, dst keadaan gelap, turun
hujan lagi, basah.. basah.. , sampai di CampIV, pukul 17.30. Buka tenda di lahan
yang sempit dan miring, carrier dijadikan alas untuk mengurangi kemiringan
tenda.

Sabtu pagi, pukul 08.00 kita lanjutkan perjalanan ke arah Puncak Utara (Garuda).
Langsung mendaki dan menyisir ke timur. Setiap tikungan dan tanjakan kami beri
marker merah, setiap jarak yang hilang jangkauan pandangan karena kabut, kira
kira 5 meter. Di tempat yang tak terjangkau karena tebing, agar tak kehilangan
jejak, seandainya terjadi hal hal yang memaksa kita turun.

Perjalanan kita dibelah jurang tebing, naik lagi ke atas ke hulu lembah,
melintas di slab berkemiringan 70 derajat, dengan carrier 90liter di pundak,
enak tenan. Kami tak mungkin memanjat tebing setinggi 20meter itu, agak turun ke
bawah, carrier ditanggalkan, kemudian memanjat memasang anchor(tambatan tali) di
batu tebing. Dengan berpegangan pada webbing(tali pita) kita melewati suatu
bentuk patahan tipis dan retak.

Cuaca saat itu kabut namun kadang jarak pandang bisa mencapai puluhan meter ke
sekitar lereng. Membuat perjalanan ini terasa lancar lancar saja, dan kitapun
tertawa.. haa haa. Sampai di tepi batas punggungan mulai mendaki ke Puncak.
Terjal, batu batuan semakin rapuh dan mudah longsor, langit di atas cuman
setinggi kepala, gelap bagai malam, kabut menyergap dari segala penjuru,
diliputi asap belerang yang tebal. Tak terasa di depanku sebuah tebing
menjulang, ketika melongok ke kiri, disamping tebing itu lereng berwarna kuning
kehijauan mengepulkan asap pekat berbau menyengat.

Sejenak kami di balik tebing, bertanya tanya pada kabut dan cuaca, akankah kita
melewatinya? Pandangan tak mungkin tersingkap, maksimal satu dua meter. Ternyata
tak ada pilihan lain, sebelum kami terjebak lebih lama di balik tebing ini, air
bekal kami gunakan untuk membasahi kain untuk masker pernafasan. Aku bilang ke
rekanku, “Kamu cepat ikuti aku,

jangan berhenti dan terus mendaki, tak berpikir
panjang, langkahku dimentahkan belerang rapuh itu, panas, beberapa kali pijakan
hancur karena rapuhnya medan terjal itu, akhirnya usaha yang kulakukan berhasil
juga, diikuti badun9, nafas terlanjur dipenuhi asap sesak dan menyakitkan di
paru paru. Akhirnya aku berdiri di puncak tebing, lahan bebatuan disamping
ladang belerang. Helipad lebar. Tampak beberapa seismograf yang menunjukkan
posisi kami sudah dekat ke arah puncak, namun tak terlihat apapun, kecuali tanah
yang kita pijak. Kemana arah kawah mati? Kabut semakin dingin, gelap gulita, aku
putuskan menunggu beberapa detik menunggu jarak
pandang melebar.

Sampai akhirnya, kami coba melangkah satu dua meter meraba kondisi medan. Aku
ingat jalan ke bibir kawah mati cenderung menurun. Masih ragu ragu, kita hanya
berhenti memandang kegelapan kabut, kulemparkan dua batu besar untuk mengetahui
mana jurang kawah mati. Dalam kekacauan ini terlihat setumpukan batu, kemudian
bendera orange pendakian anak anak TWKM kemarin, kami bisa menentukan arah
perjalanan. Jurang kawah mati di depan mata,

tapi kami tak sanggup melangkah
kecuali hanya menahan dingin dan menahan nafas akibat asap kawah.
Terjebak ntah berapa menit, samar samar tampak sebuah kabel hitam, aku ingat,
pendakianku dulu mengikuti kabel karet ini, “Ini jalannya,” tanpa ragu lagi kita
menyisir bibir kawah selebar satu meter yang mendaki, melewati sumur uap yang
tampak mengerikan, dihantam kabut dan angin kencang.

Sampai di jalur lereng puncak dari arah utara. Istirahat sebentar, hampir pukul
14.30. Carrier kami tinggal dan segera mendaki 5menit ke puncak Utara, cuaca
semakin tdk menentu, gerimis, ambil dua foto, dan langsung turun ke arah
carrier.
Segera memakai raincoat kemungkinan akan terjadi hujan badai. Kami melanjutkan
perjalanan turun ke arah pasar Bubrah, tapi diguyur hujan deras, disertai petir.
Segera lereng ini menjadi aliran air yang mengalir deras, pemandangan yang
sangat indah, bagai di tengah riak jeram, namun keadaan tak memungkinkan untuk
mengambil kamera.

Kami tetap berjalan ditengah guyuran hujan, sesekali merunduk sejenak saat
kilatan petir menyambar. Kami berjalan menepi ke tebing tebing yang sepintas
seperti air terjun yang mengucurkan air melimpah. Tanpa sengaja kutemukan
cerukan tebing menjorok ke dalam, disana kami cukup mendapatkan perlindungan
dari hujan deras. Menunggu hujan reda, akhirnya kami putuskan flycamp di atas
batuan tebing ini.

Hari mulai sore, cuaca semakin membaik, namun kabut masih menyelimuti.
Melewatkan malam minggu di lahan sempit miring di lereng bawah puncak. Menunggu
kabar teman dari Jakarta, esp. Gethuk “Truwelu”. Paginya, meski matahari tak
bersinar secerah dan sepanas yang kami inginkan, bekal basah kami keringkan di
atas bebatuan, sambil menunggu sms dari Geth, sesaat kemudian Hp berdering, Geth
mengabarkan, teman teman dalam perjalanan ke Puncak dari bawah pasar Bubrah,
“Ok, tak tunggu pak, Selamat Mangkat” jawabku singkat.:)~

Pukul berapa, aku lupa, melewati kami dua orang ke puncak, kemudian beberapa
saat lagi, lewat tiga orang, aku tanya salah satu dari mereka, “Dari mana mas?”,
dia jawab, “Pathuk, ngantar teman dari Jakarta”, Kemudian aku tanya lagi ce di
belakangnya, “Dari Jakarta mbak, yah, ada yang namanya Gethuk??” Dia melewati
kami terus berhenti di depan, “Oh ini khabul yah”, perkenalan dengan mbak

Nhanha, disusul rombongan di belakangnya dari anak anak Gappala, teman teman
Palimka, andri, agus, dst, dan ketemu dengan abang kita, bang Nandha :) ,
kemudian ntah urutan mana yang benar, Arief Gethuk, Rina, Dodi, Kiskie, oh iya,
Dini, terus.. dst, perkenalan, salam salaman kemudian mereka ke puncak.
Beberapa saat setelahnya suasana kabut kemudian gerimis, sebentar kemudian kita
selamatkan barang barang terus packing Carrier.
Kita sama sama turun ke pasar Bubrah, dan seterusnya ke Basecamp Selo.
Tak terasa kaki kami melangkah menjauh tebing yang beberapa hari ini menemani
dan menjadi naungan kami, jauh dari getaran getaran kaki manusia di Puncak yang
sunyi.

thx to: mbah Marijan, mbah mbah yang telah memeberi kami nasehat dan restunya,
dan terutama kepada Allah Swt yang memberikan langit-Nya untuk dinikmati, dan
teman teman semua, haa haa ,.,

Team Jakarta mengucapkan terima kasih kepada seluruh team Palimka, Team Jakarta, team Jogja. Semoga perjalan ini menjadikan kita lebih arif dan bijak, persaudaraan dan persahabatan adalah ikatan murni yang tertuang di dalam jejak-jejak langkah yang tertinggal di puncak sana.

Yanweka(gappala14-milisPendaki)

One thought on “Pendakian Milis #pendaki ke Merapi 25-26 Dsember 2004

  1. Pingback: Gappala Jakarta - Sepeda Santai Gappala Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s